PROGRAM GURU PENGGERAK


Dalam kurun waktu 3 tahun belakangan ini, SMP Negeri 2 Boawae Satap, Melalui Kepala Sekolah, gencar mendorong guru-gurunya untuk mengikuti program Guru penggerak. Hal ini sangat dirasakan dampaknya setelah dua orang guru lulus jadi guru penggerak angkatan 8 atas nama Bpk. Klemens Jona dan ibu Elvira Maria Bhudu. Selanjutnya Calon Guru Penggerak angkatan 9, atas nama Klaudia Medho, pindah tugas ke SMPK Hanura. muncul pengganti pada anggatan 10 ini sejumlah 3 orang guru, Saya sendiri, bersama Pak Martinus Tinu dan ibu Irna, sedang menjalani proses pendidikan. sementara anggkatan 11 mengantri ada 3 orang guru, dan Ibu Rety (Kepsek, cie cie.. tut wuri handayani.. ooo), serta ibu Theresia, Pa vinsen dan ibu Rosa, (yang sekarang pindah tugas ke Labuan Bajo) mengikuti suami.

 Pentingkah?

Pertanyaaan ini selalu terngiang saat saya masih belum mengenal program ini, betapa tidak, hal ini terjadi karena terdapat banyak sekali vlog atau postingan di medsos yang menjelaskan bahwa program ini sangat tidak bermanfaat dan terkesan hanya buang-buang biaya. 

“ah.. saya coba kali ini, jika gagal tes calon guru penggerak, saya pastikan di sisa 10 tahun sebelum pensiun, saya tidak akan mengikuti program ini.” Proses tidak akan menghianati hasil, dorongan dan motivasi dari Kepala Sekolah dan teman teman guru, terutama guru penggerak yang telah hadir disekolah kami, (pa Jen dan ibu Elvira) akhirnya kami bertiga lulus CGP angkatan 10 dan pada saat ini sedang mengikuti pendidikan itu.

apa sih?....

Tergerak, bergerak dan menggerakan adalah moto guru penggerak. apa yang digerakan?  Guru Penggerak adalah program pendidikan kepemimpinan bagi guru untuk menjadi pemimpin pembelajaran. Program ini meliputi pelatihan daring, lokakarya, konferensi dan pendampingna selama 9 bulan bagi guru penggerak. selama program berlangsung guru tetap melaksanakan tugas dan tanggungjawabnnya sebagai mana mestinya.

Dalam acara "Sharing Knowledge Program Guru Penggerak 2022", Selasa (18/1/2022), Tatik Dwi Suswati, S.Pd, M.Pd. selaku Widyaprada LPMP Provinsi Jawa Timur menjelaskan prinsip dari Guru Penggerak adalah Tergerak, Bergerak, dan Menggerakkan. "Tergerak untuk melakukan perubahan. Bergerak tidak boleh pasif, harus selalu melakukan perubahan. Menggerakkan komunitas di sekolah maupun di daerahnya," jelasnya.

Hal ini sesuai dengan Visi Pendidikan Nasional, yaitu mewujudkan Indonesia maju yang berdaulat, mandiri, dan berkepribadian melalui terciptanya Pelajar Pancasila. 6 aspek dalam Pelajar Pancasila meliputi: (1) Beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia; (2) Berkebinekaan Global; (3) Bergotong-royong. (4) Kreatif; (5) Bernalar kritis; (6) Mandiri.

pembelajaran di kelas (foto. dok)

literasi outdoor (foto. dok)
 

Ada 5 tujuan dari program Pendidikan Guru Penggerak,

-       Pertama mewujudkan profil guru yang dapat mengembangkan diri dan guru lain dengan refleksi, berbagi, dan kolaborasi. 

-       Kedua, memiliki kematangan moral, emosional, dan spiritual untuk berperilaku sesuai kode etik. 

-       Ketiga, merencanakan, menjalankan, merefleksikan, dan mengevaluasi pembelajaran yang berpusat pada peserta didik dengan melibatkan orang tua. 

-       Keempat, mengembangkan dan memimpin upaya mewujudkan visi satuan pendidikan yang mengoptimalkan proses belajar peserta didik yang berpihak pada peserta didik dan relevan dengan kebutuhan komunitas di sekitar satuan pendidikan. 

-       Kelima, berkolaborasi dengan orang tua peserta didik dan komunitas untuk pengembangan satuan pendidikan dan kepemimpinan pembelajaran.

Goal

Indikator keberhasilan Pendidikan Guru Penggerak yaitu, mampu menggerakkan komunitas belajar, baik di dalam maupun di luar satuan pendidikan. Serta, berpotensi menjadi pemimpin pendidikan yang dapat mewujudkan rasa nyaman dan kebahagiaan peserta didik ketika berada di lingkungan satuan pendidikannya masing-masing. Di dalam belajar menjadi Guru Penggerak, mereka sudah diajari bagaimana melakukan manajemen sekolah dan lain sebagainya. Karena berpusat pada siswa, maka Guru Penggerak dapat mewujudkan rasa nyaman dan bahagia atau well being terhadap siswa yang diajarnya."

komunitas S2b. (foto;marten)



Guru Penggerak akan selalu berpihak pada siswa.

Guru menggerakkan komunitas belajar di sekolah dan luar sekolah, guru lain dapat menerapkan pembelajaran aktif yang sesuai dengan tahap perkembangan siswa. "Pembelajaran diferensiasi, pembelajaran emosional, itu dilakukan, sehingga guru yang melakukan kegiatan-kegiatan tersebut bisa mewujudkan Murid Merdeka Belajar, "Jadi, tidak seperti dulu, guru yang mempunyai aturan sendiri dan murid harus mengikuti aturan-aturan yang sudah disepakati bersama guru."

SMP Negeri Boawae Satap dalam perjalanannya sedang berupaya sedapat mungkin menciptakan suasana pembelajaran baik dalam kelas atau kegiatan extra untuk selalu berpedoman pada tujuan guru penggerak, sehingga terciptnya profil pendidikan pancasial bukan hanya sekedar slogan semata, tetapi benar dirasakan manfaatnya dalam kehidupan siswa sesuai kodrat alam dan kodrat jamannya. 

sekian da terima kasih.

'' gagal diupload. Invalid response: Error code = 7, Path = /_/BloggerUi/data/batchexecute, Message = There was an error during the transport or processing of this request., Unknown HTTP error in underlying XHR (HTTP Status: 0) (XHR Error Code: 6) (XHR Error Message: ' [0]')













Komentar

Postingan populer dari blog ini